Hermeneutika Arkeologi, upaya penafsiran dialektis terhadap kebudayaan materi - page 9

Problem Hermeneutika sebagai Metode
Salah satu problem dalam penelitian kualitatif (metode hermeneutik digolongkan dalam pendekatan ini) yang sampai sekarang masih sering menjadi perdebatan, khususnya bila dihadapkan dengan ilmu-ilmu alam, adalah tentang validitas. Untuk menanggapi masalah tersebut, maka dikembangkan suatu sikap curiga terhadap setiap data, khususnya yang berasal dari variabel aktor pencipta, termasuk sikap curiga terhadap diri peneliti sendiri, sekaligus untuk mengurangi subyektifas penelitian. Menurut Geertz sikap curiga tersebut didasarkan atas pendapat tiga orang filsuf yang mengingatkan bahwa subyektifitas dapat terjadi karena adanya pengaruh faktor libido (Sigmund Freud), pengaruh faktor kuasa (Friedrich Nietzsche) ataupun penga-ruh dari faktor ekonomi (Karl Marx) yang akan dapat mengaburkan makna terdalam dari obyek studi. Di samping mengembangkan sikap tersebut, juga dikembangkan pra-konsepsi dan pra-disposisi guna membantu memandu dalam membangun dan memahami makna dari obyek yang sedang diteliti.

Begitu pula problem tentang makna merupakan topik sebagai pusat perhatian pembahasan hermeneutik. Bila dalam arti luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu dengan maksud untuk mencapai hasil optimal, dan dalam arti khusus metode merupakan cara berpikir menurut sistem aturan tertentu, maka persoalan yang mengemuka adalah sejauh mana metode yang dipergunakan di dalam hermeneutik dapat dipergunakan untuk memahami ? Dapatkah hermeneutik bertahan terhadap penyelidikan dan mempertahankan kedudukannya sebagai metode ? Kiranya tidak, sebab sebagai metode, hermeneutik tidak dapat disejajarkan dengan metode ilmiah yang sifatnya ketat dan baku, sementara hermeneutik sifatnya luwes atau fleksibel. Meski menurut Dilthey ada perbedaan tajam bahwa metode pada ilmu alam tidak mungkin dapat diberlakukan pada ilmu humaniora, karena perbedaan tersebut terutama terletak di dalam validitas pengukurannya. Namun sebagai metode pembahasan filsafat, hermeneutik akan selalu relevan sebab kebenaran yang diperoleh tergantung pada orang yang melakukan interpretasi dan 'dogma' hermeneutik bersifat luwes sesuai dengan perkembangan zaman dan sifat open mindedness-nya.

Pembicaraan mengenai hermeneutika akan menghadapkan pada problem hermeneutik yang syarat dengan bayang-bayang relativisme pemahaman. Persoalan hermeneutika itu bersarang pada perbedaan antara maksud pembuat dan maksud pembaca, dunia (waktu dan tempat) ketika teks itu ditulis dan dunia ketika teks itu dibaca. Apakah pemahaman terhadap teks harus sesuai dengan maksud pengarang/pencipta atau interpretasi penafsir yang terlepas dari maksud subyektif pengarang/pencipta ? Pada titik inilah hermeneutika menjadi perdebatan klasik sekaligus menjadi inti persoalan hermeneutika. Untuk mengatasi persoalan hermeneutika ini, maka ada baiknya jika melihat hermeneutika Paul Ricouer sebagai metode yang mampu mendamaikan dan memberikan horizon baru bagi pemaknaan relasi pengarang (pencipta) r11; teks r11; pembaca. Dalam pandangan Ricouer, wacana ujaran yang menjadi wacana tulisan (teks) dapat bersifat otonom untuk melakukan 'dekontekstualisasi' (materi teks melepaskan diri dari konteks pengarang/pencipta) dan 'rekontekstualisasi' (konteks pembaca yang lebih luas lagi). Melalui dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi, kedudukan pengarang/pencipta dan pembaca menjadi sejajar untuk memberikan pemaknaan terhadap teks.

Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar