Hermeneutika Arkeologi, upaya penafsiran dialektis terhadap kebudayaan materi


Penerapan metode hermeneutik dalam arkeologi bukannya tidak mendapat kritikan. Salah satu kritik yang dilontarakan adalah bagaimana mungkin menjelaskan sebuah obyek material yang konteks masyarakat pembuat atau pemakainya sudah punah? Oleh karena itu dalam konteks arkeologi, sejalan sebagaimana yang dikemukakan oleh Hardiman bahwa kita harus memeriksa kembali pra-paham kita. Pertentangan antara pra-paham kita dengan pengandaian pemilik benda tersebut akan memperkaya khasanah berfikir kita. Perbenturan antara cakrawala berpikir kita dengan cakrawala berfikir pemilik budaya tersebut akan kita sikapi dengan kreatif, produktif dan terbuka. Tugas ini bukan bersifat reproduktif tetapi produktif.

Kajian hermeneutik diharapkan mampu menjawab pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana metode ini digunakan serta keabsahan penggunaan metode tersebut dalam studi arkeologi. Tinggalan arkeologi pada dasarnya adalah merupakan produk budaya dari masyarakat masa lalu, dan oleh sebab itu studi tentang arkeologi sebenarnya terkait erat dengan upaya-upaya pemahaman terhadap makna obyek, atau tanda-tanda yang membentuk tinggalan arkeologi tersebut terhadap masyarakatnya pendukungnya. Pada dasarnya untuk memahami makna tinggalan arkeologi tersebut, diperlukan kegiatan interpretasi yang dapat memberikan dan memperkaya jawaban sebenarnya tentang hal tersebut. Kegunaan metode hermeneutik atau interpretasi dalam studi arkeologi ini adalah untuk memahami bentuk dalam konteks ruang dan waktu dimana obyek tersebut berada, terkait di dalamnya keseluruhan aspek kondisi sosial, ekonomi, budaya, pandangan hidup maupun sejarahnya. Metode interpretasi ini diperlukan bagi arkeologi yang diciptakan dalam konteks lokal pada masa lalu, agar tinggalan arkeologi tersebut mempunyai makna dan relevansi bagi perkembangan identitas ke-arkeologi-an pada masa kini dan mendatang terutama bagi perkembangan masyarakatnya, di masa lalu, kini dan mendatang. Jadi ada semacam kesinambungan memori di dalam perubahan yang terjadi. Pada semua tinggalan arkeologi yang masuk dalam kategori dari semua periode masa, hermeneutik relevan untuk diterapkan karena menawarkan suatu perspektif baru mengenai cara memahami makna tinggalan arkeologi. Pemaknaan baru tersebut tampak dari upaya tentang pengakuan adanya pengaruh faktor non-fisik dalam penciptaan benda yang masuk kategori tinggalan arkeologi, sehingga meluaskan pemahaman atas makna tinggalan tersebut dalam hubungannya dengan masyarakat pendukungnya. Hermeneutik dalam arkeologi juga mengakui keberadaan arkeologi dengan unsur-unsur metaforis simboliknya, termasuk unsur mistiknya.

Contoh yang dapat dikemukakan dalam penerapan hermeneutik arkeologi adalah penafsiran dan pemaknaan atas struktur gundukan keliling tanah liat di Kecamatan Galela Halmahera Utara Propinsi Maluku Utara yang kini tersisa pada bagian tertentu. Tinggalan yang berasal dari abad ke-16 M dibangun pada masa awal mula kedatangan bangsa Eropa di daerah ini. Ditinjau dari sejarah budaya pada kurun waktu yang sama dengan konteks wilayah budaya Eropa yang lain di Maluku Utara yaitu benteng pertahanan militer, maka gundukan tanah liat tersebut dapat diinterpretasikan sebagai benteng pertahanan militer. Namun secara fungsional tembok dari tanah liat tersebut bukanlah berfungsi sebagai benteng militer, khususnya pada daerah Galela, tetapi memiliki tujuan lain. Dilihat dari bahan baku dan bentuknya, struktur gundukan ini menunjukkan ciri yang berbeda dengan struktur lain yang dibangun di wilayah ini, pada masa sebelumnya dan sesudahnya. Perbedaan dan persamaan lain yang nampak adalah asosiasinya dengan pennyebaran Katholik di Halmahera dan Morotai. Hal ini dianggap sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa para padriKatholik menyebarkan agamanya di Nusantara ini dimulai dari wilayah timur. Dari contoh ini dapat diketahui bahwa pembuatan struktur gundukan tanah liat bukan dimaksudkan sebagai benteng pertahanan militer, namun sebagai batas permukiman para misionaris yang bekerja di Halmahera dan Morotai. Interpretasi ini dilandasi oleh evaluasi terhadap persamaan dan perbedaan, serta juga kepada konteks dan teori.

Interpretasi yang dimulai dari yang umum menuju spesifik dan dari yang spesifik kembali kepada umum, demikian seterusnya. Hal ini berarti bahwa dalam mengkaji dan mengungkapkan makna yang spesifik dari tinggalan arkeologi sebagai teks, harus dilakukan dalam rangka makna umum sebagaimana yang dimaksudkan oleh teks. Pada gilirannya makna umum itu pun perlu disesuaikan dengan hasil pengkajian dari bagian yang spesifik. Adapun apa yang harus dilakukan dalam proses melingkar itu ialah untuk senantiasa menghubungkan apa yang dikaji dengan apa yang telah diketahui ke konsep yang asing secara terus menerus sampai pada tahap di mana konsep yang dikenal dengan konsep asing menyatu sebagai hasil tentative interpretasi.

Ricouer mengembangkan metode melingkar ini ke dalam dialog antara explanation dan understanding. Explanation merupakan kajian yang bersifat analitis dan empiris. Atas dasar itu maka kajian dilakukan terhadap obyek yang terdiri dari unsure-unsur yang telah terpolakan. Unsur-unsur yang telah terstruktur ini belumlah mengngungkapkan makna apapun. Makna baru itu akan terungkapkan setelah unsure-unsur itu diproyeksikan menjadi sebuah pola yang utuh untuk kemudian diletakkan pada tahap interpretasi. Jadi interpretasi merupakan tahap sintesa dan interpretasi dilakukan terhadap pola yang menyeluruh dan utuh tadi. Demikianlah lingkaran hermeneutik terjadi antara explanation ke understanding kembali ke explanation dan seterusnya.

Adapun peluang yang dapat dicapai dengan menggunakan metode hermeneutik dalam arkeologi adalah bagaimana menciptakan dan mendorong terbentuknya arkeologi yang bermakna (meaningful), terutama yang terkait dengan warisan budaya masyarakat. Juga bagaimana memberi peluang bahwa arkeologi tidak bermakna tunggal sehingga keunikan lokal tetap tejaga. Dan secara general adalah bahwa bagaimana hermeneutik dapat meningkatkan kesadaran atau sensitifitas akan perbedaan makna dalam setiap tinggalan arkeologi. Hal ini dikarenakan bahwa dalam pengertian umum interpretasi terhadap kebudayaan materi bekerja di antara masa lampau dan masa kini atau antara contoh-contoh yang berlainan dari kebudayaan materi serta membuat analogi di antara keduanya. Proses interpretasi terhadap pola kebudayaan materi telah dilakukan sejak tahap analisis atau tahap pengenalan pola. Atas dasar itu maka pada semua tahap, dari pengidentifikasian kelas dan atribut hingga kepada pemahaman terhadap proses sosial tingkat tinggi, yang dalam melakukan interpretasi ini arkeolog harus menghadapi tiga wilayah sekaligus :

1. Pengidentifikasian konteks terhadap artefak memiliki makna fungsional yang sama. Interpretasi harus dilakukan guna menemukan batas konteks makna fungsional.
2. Pengidentifikasian konteks dilaksanakan melalui pengenalan adanya persamaan dan perbedaan. Dasar pengidentifikasian konteks ditentukan atas dasar dua asumsi. Pertama, benda yang berada pada batas sebuah konteks dibuat dengan cara yang sama. Kedua, manusia bersikap sama dalam menghadapi situasi yang sama. Kedua asumsi yang dikemukakan itu hanya dapat diterapkan sepanjang batas konteksnya dapat dikenali dengan baik.
3. Evaluasi yang dilakukan adalah mencari relevansi dari teori-teori yang umum maupun yang spesifik terhadap data. Observasi dan interpretasi merupakan proses yang sarat dengan teori, walaupun penerapan teori itu dapat saja berubah dalam konfrontasi secara dialektis dengan bukti materi.

Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar