Oleh : Nurachman Iriyanto
NIM. 07/259867/PSA/1820
Program Studi Arkeologi Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, 2008
KATA PENGANTAR
Syukur kepada Allah SWT, Tuhan Seru Sekalian Alam, yang telah memberikan nikmat kepada kami kesempatan untuk dapat merasai berbagai kehidupan dalam dunia, terutama dunia pengetahuan selama ini hingga selesai pada waktuya tugas mata kuliah Teori Arkeologi Program Studi Arkeologi Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Patut rasanya kami sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Dr. Daud Aris Tanudirdjo, MA., yang telah memberikan kuliah terjadwal beserta kuliah-kuliah tambahan (karena rasa ingin tahu kami, angkatan 2007 arkeologi, sehingga kuliah tambahan menjadi kebutuhan), juga kesediaan beliau meminjamkan buku-buku yang rasanya sulit untuk didapatkan di tempat kami, Indonesia Timur. Kepada kawan-kawan seangkatan, semoga tidak lelah merenangi samudera pengetahuan, layar sudah dikembangkan, pantang rasanya surut kembali.
Pemilihan topik Hermeneutika Arkeologi ini didasarkan kepada ketertarikan pribadi kami pada saat mengikuti kuliah tambahan dimaksud, setidaknya diingatkan kembali akan "koleksi" buku Hermeneutik di akhir tahun '90-an. Hal ini tentu memacu untuk kembali menggumuli 'barang lama' yang pernah ada, yang mengundang kita untuk melihat lebih dekat sistem simbol yang ada, sebagai alat untuk mengerti dan memahami. Bahasa menjadi pusat bahasan hermeneutik sejauh hal itu menyatakan keseluruhan jaringan sejarah, kebudayaan, kehidupan dan nilai-nilai yang merupakan petunjuk ke arah interpretasi. Ciri khusus peranan bahasa tersebut tampak melalui penggunaan bahasa sebagai media dalam komunikasi ide dan gagasan yang untuk kemudian melahirkan persoalan tentang 'makna'. Makna yang oleh beberapa filsuf dibahas berdasarkan motivasi-motivasi tertentu, maka 'Bacalah !', kata pertama yang diturunkan, menghubungkan makna dengan kebenaran tentang dunia yang ada di sekitar kita atau di mana kita hidup. 'Bacalah !' mengandung arti bahwa peranan bahasa dalam berkomunikasi dan proses berpikir, khususnya dalam persoalan bagaimana mengidentifikasi, memahami ataupun meyakini yang merangsang manusia untuk berpikir analitis. 'Bacalah !' merupakan sebuah upaya menafsirkan yang tersurat dan tersirat, sebagai pembahasan seluruh isi alam semesta ke dalam bahasa kebijaksanaan manusia, melalui ketepatan pemahaman dan ketepatan penjabarannya.
Arkeologi, setidaknya merupakan salah satu disiplin ilmu yang sarat dengan upaya-upaya penafsiran masa lalu berdasar tinggalan benda-benda yang yang masuk dalam kategori artefak, ekofak, fitur dan lingkungannya. Hal ini mengingat tidak ada satu pun ahli yang dapat mengetahui secara tepat apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu. Penafsiran dalam ranah arkeologis inilah yang menjadikan metode hermeneutika penting untuk dikembangkan lebih lanjut, meskipun secara tegas arkeolog sebagai penafsir membuat pembedaan dan penekanan atas pemahaman, penjelasan dan interpretasi. Namun juga berbicara tentang sirkularitas ketiga hal tersebut sedemikian rupa sehingga seakan-akan ketiganya saling menyusupi satu sama lain, yang menurut Paul Ricoeur, engkau harus memahami untuk percaya dan percaya untuk memahami. Menurutnya ada tiga langkah pemahaman, yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbol-simbol ke gagasan tentang 'berpikir dari' simbol-simbol. Pertama adalah langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol. Kedua, pemberian makna oleh simbol serta 'penggalian' yang cermat atas makna. Ketiga, merupakan langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.
Pada ranah kehidupan saat ini logika simbol menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat dunia, yaitu bahwa di tengah kegalauan manusia berhadapan dengan kebisingan globalisasi, banalitas kehidupan telah diambil oleh kedangkalan simbol. Di setiap penjuru sudut ruang kita digiring rayuan simbol, entah itu 'sapaan' pemilik modal yang mengeksploitasi hasrat, ucapan maut janji-janji politisi, kaum agamawan yang menebar tanda-tanda surga serta hingar bingarnya parodi wacana. Secara langsung simbol memang tidak dapat merubah suatu realitas secara langsung, akan tetapi simbol menyimpan daya magis melalui kekuatan abstraknya untuk membentuk dunia melalui pancaran makna. Kekuatan simbol mampu menggiring siapa pun untuk memercayai, mengakui, melestarikan atau mengubah persepsi hingga tingkah laku orang dalam bersentuhan dengan realitas. Daya magis simbol tidak hanya terletak pada kemampuannya merepresentasikan kenyataan, tetapi realitas juga direpresentasikan lewat penggunaan logika simbol.
Sistem simbol (bahasa, wacana, tanda-tanda simbol artefak, dan sebagainya) bukan hanya instrumen komunikasi guna mendapatkan pemahaman bersama. Lebih dari itu, sistem simbol menjadi bagian yang terpisahkan bagi manusia untuk merepresentasikan dunia menurut pikiran, tindakan dan kepentingannya. Tiap kata, konsep, wacana, kode-kode simbol artefaktual lainnya selalu mengaktualisasikan imajinasi-imajinasi, rencana-rencana, bahkan ambisi. Tidak ada pemaknaan yang berjalan linear, semuanya berjalan menurut sirkulasi kekuasaan tertentu. Apa pun simbol yang terbentuk seringkali membelokkan atau menjauhkan kita dari kenyataan sebenarnya.
Akhir kata, kami sampaikan harapan adanya kritik (selain oto kritik yang dilakukan) bagi perkembangan yang lebih baik dalam kajian-kajian sejenis. Semoga ada maknanya.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar