Teori Hermeneutis, Filsafat Hermeneutik dan Hermeneutika Kritis
Istilah hermeneutika pertama kali diperkenalkan ke dalam budaya Barat (Eropa) dalam bentuk Latin hermeneutika oleh seorang teolog dari Strasbourg, Johann Dannhauer, yang memakainya dalam pengertian disiplin yang diperlukan setiap ilmu yang mendasarkan keabsahannya pada teks. Pada awalnya hermeneutik diposisikan sebagai bagian dari ilmu filologi, dan baru pada abad 16 memperoleh perhatian akademis setelah para ilmuwan gereja menggunakannya sebagai metode pemahaman dan interpretasi Kitab Suci Bibel. Sejak saat itu posisi hermeneutik mulai berkembang menjadi metode kritik historiografi. Pada abad 18, ketika masyarakat Eropa bangkit dalam upaya penghargaan dan apresiasi terhadap seni klasik, maka peran hermeneutik menjadi semakin penting dan dibutuhkan. Karena yang menjadi obyek kajian adalah pemahaman tentang makna dan pesan yang terkandung dalam karya seni klasik yang merupakan karya cipta masa lalu, maka faktor pencipta, proses penciptaan dan karya cipta menjadi sangat penting untuk diketahui.
Sedangkan Hermeneutik Baru muncul sebagai sebuah gerakan dominan dalam teologi Protestan Eropa, yang oleh Wilhelm Dilthey, sejarawan hermeneutik modern pertama, dinyatakan bahwa istilah ini muncul di abad ke-16, di bawah semangat sola scriptura Protestanisme. Sehingga sepintas nampak bahwa hermeneutika berasal dari tradisi pengetahuan keagamaan, utamanya tradisi Kristiani.
Namun perlu diingat bahwa kata hermeneutika itu sendiri berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti 'menafsirkan', sehingga kata benda hermeneia secara harfiah dapat diartikan sebagai 'penafsiran' atau interpretasi. Istilah Yunani Ερμηνεa3;ς hermēneuō: menafsirkan adalah aliran filsafat yang bisa didefinisikan sebagai teori interpretasi dan penafsiran sebuah naskah melalui percobaan, ini mengingatkan pada tokoh mitologis Hermes, sebagai utusan yang bertugas menyamaikan pesan Jupiter kepada manusia serta menerjemahkan pesan-pesan dari dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang dimengerti oleh manusia. Fungsi Hermes menjadi sangat penting sebab bila terjadi kesalahanpahaman tentang pesan dewa-dewa, akibatnya akan fatal bagi seluruh umat manusia. Hermes harus mampu menginterpretasikan atau menyadur pesan ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Sebagai simbol duta yang dibebani dengan misi tertentu, maka berhasil tidaknya misi itu sepenuhnya tergantung pada cara bagaimana pesan itu disampaikan. Pada akhirnya hermeneutik diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Batasan umum ini dianggap benar baik oleh pandangan klasik maupun modern. Dalam teks-teks Yunani kuno, kata hermeneutikka yang dilafalkan ermeneutike digunakan pada mulanya oleh Plato pada ketiga karyanya, Politicus 260 d 11, Epinomis 975 c 6, Definitions, 414 d 4, meski terlihat jelas hubungan kata ermeneutike ini dengan 'ermeneia' dan 'ermeneus', asal-usul etimologisnya tetap kabur.
Aristoteles (384-322 SM) menulis dalam Peri Hermeneias atau De Interpretatione bahwa kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan. Sebagaimana seseorang tidak mempunyai kesamaan bahasa tulisan dengan orang lain, maka demikian pula ia tidak mempunyai kesamaan bahasa ucapan dengan yang lain. Akan tetapi pengalaman-pengalaman mentalnya yang disimbolkannya secara langsung itu adalah sama untuk semua orang sebagaimana juga pengalaman-pengalaman imajinasi kita untuk menggambarkan sesuatu. Masa itu Aristoteles sudah menaruh minat kepada interpretasi, yang menurutnya tak ada satu pun manusia yang mempunyai, baik bahasa tulisan maupun bahasa lisan yang sama dengan yang lain. Bahasa sebagai sarana komunikasi antar-individu dapat juga tidak berarti sejauh orang yang satu berbicara dengan yang lain dengan bahasa yang berbeda. Bahkan pengalihan arti dari bahasa yang satu ke bahasa yang lain juga dapat menimbulkan banyak problem. Manusia juga mempunyai cara menulis yang berbeda. Kesulitan itu akan muncul lebih banyak lagi jika manusia saling mengomunikasikan gagasan-gagasan mereka dalam bahasa tertulis. Demikian juga jika setiap individu mempunyai pengalaman-pengalaman mental yang sama, ekspresi oral atas pengalaman mental itu tidak pernah sama.
Dengan kekaburan seperti itu, beberapa ahli mencoba menggabungkan pengertian kata ermeneutike dengan pengertian ramalan. Léon Robin menerjemahkannya menjadi 'tafsiran atas wangsit'. Oleh karena itu keterampilan 'hermeneutis' terletak pada kemampuan menjelaskan makna apa yang diucapkan menggunakan seni ramalan, sementara laku hermeneutis adalah laku yang memerantarai peramal dengan anggota komunitas lain, layaknya nabi di antara Tuhan dan makhluk. Dalam Epinomis dinyatakan bahwa perantara (penafsir) ini memang menjadi 'penyambung lidah'. Dia memang bisa menjelaskan isi ramalan atau 'wahyu', namun tidak bisa menyatakan dengan pasti apakah yang dikatakan ramalan itu niscaya akan terbukti benar atau tidak. Singkat kata tugas hermeneutika adalah menjelaskan 'apa makna sesuatu', sementara persoalan benar tidaknya makna ini adalah persoalan lain yang mesti ditangani oleh ilmu yang lebih tinggi yaitu filsafat.
Sedangkan di dalam Webster's Third New International Dictionary dijelaskan definisi hermeneutika sebagai 'studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi Bibel'. Sehingga secara longgar hermeneutika dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau filsafat interpretasi makna, sebagai bentuk kesadaran tentang semua ekspresi manusia yang berisi sebuah komponen penuh-makna, yang harus disadari sedemikian rupa oleh subyek dan yang diubah menjadi sistem nilai dan maknanya sendiri, telah memunculkan 'persoalan-persoalan hermeneutika.' Sedangkan menurut Gadamer hermeneutik adalah 'memahami dirinya sendiri bukan sebagai posisi yang mutlak sebuah pengalaman, melainkan sebagai jalan pengalaman itu, dan ini menegaskan bahwa tidak ada prinsip yang lebih tinggi daripada mengusahakan diri tetap terbuka untuk berbicara dengan orang lain'. Penjelasan senada mengenai makna hermeneutika dijelaskan pula oleh Zygmunt Bauman, yang menyatakan bahwa hermeneutika berkaitan erat dengan 'upaya menjelaskan atau menelusuri' pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, samar, remang-remang dan penuh kontradiksi, sehingga menimbulkan kebimbangan atau kebingungan bagi para pendengar atau pembaca. Artinya makna dari sebuah teks dapat dipahami secara beragam oleh pembaca yang kemudian melahirkan penjelasan yang berbeda pula.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar