Hermeneutika Arkeologi, upaya penafsiran dialektis terhadap kebudayaan materi - page 5

Hermeneutika dan Bahasa
Pada dasarnya hermeneutik berhubungan erat dengan bahasa. Yang dimaksud bahasa ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi atau perantara dalam menyampaikan suatu maksud, namun juga merupakan proses berfikir, berbicara, menulis maupun berkarya, baik yang diwujudkan dalam bentuk teks maupun tanda-tanda lainnya. Disini bahasa menjadi way of being-nya manusia. Jadi bila pengalaman manusia yang diungkapkan melalui bahasa tersebut tampak asing bagi pembaca pada generasi berikutnya, maka di sini peran hermeneutik untuk menafsirkan atau menginterpretasikan secara benar teks atau tanda-tanda tersebut menjadi sangat penting. Kita berpikir melalui bahasa, kita berbicara dan menulis dengan bahasa. Kita mengerti dan menginterpretasi dengan bahasa.

Ketiga faktor ini membentuk suatu segitiga yang tidak bisa dipi-sahkan jika ingin memahami makna suatu suatu karya cipta. Dalam kondisi ini hermeneutik memerankan dirinya sebagai sebuah metode yang menafsirkan atau menginterpretasikan realitas lain yang tidak hadir. Baik karena telah berlalu dalam ruang maupun waktu yang cukup jauh ja-raknya, sementara realitas tersebut hadir pada kita saat ini melalui atau diwakili oleh teks atau tanda-tanda lainnya. Hermeneutik juga dapat diartikan sebagai teori analisis dan praktik penafsiran terhadap teks yang mengandung kemahiran untuk memahami teks yang berada pada ruang relativitas kultural dan historis dari setiap wacana manusia. Ini dikarenakan proses kegiatan reflektif terhadap pengetahuan dan karya manusia selalu terkait dengan persoalan waktu, tempat, pencipta teks dan subyek penafsir.

Bahkan seni yang jelas tidak menggunakan sesuatu bahasa pun berkomunikasi dengan seni-seni lainnya juga dengan bahasa. Semua bentuk seni yang ditampilkan secara visual (misalnya tinggalan arkeologis) juga diapresiasi dengan menggunakan bahasa. Bahasa bukan hanya melingkupi segala sesuatu yang bisa jadi obyek, akan tetapi juga mampu menghadirkan apa pun yang tidak bisa diobyektivikasi. Di titik ini, bahasa dapat dikatakan absolut karena hanya bahasalah yang mampu menyingkap 'keseluruhan' dunia, di mana hubungan bahasa dengan dunia bukanlah obyektivasi. Sebaliknya yang terjadi adalah obyek pengetahuan dan pernyataan-pernyataan ilmiah menjadi mungkin, karena berada dalam cakrawala bahasa. Dunia, sebagaimana yang disingkapkan bahasa, memang bisa dipahami, namun hanya terjadi dari dalam, dengan cara menghidupi dunia itu dari dalam. Dalam konteks kesadaran akan sejarah-berdampak, sebagai prinsip hermeneutis yang menyebabkan pemahaman bersifat historis (historikal pemahaman), pada dasarnya adalah sejarah teks-teks yang ditransmisikan lewat tradisi. Hubungan teks dengan penafsirnya adalah relasi percakapan tempat bermainnya logika tanya jawab. Keseluruhan konsep penting ini mengacu pada satu titik, yaitu bahasa.

Ini membawa pada aspek kedua menyangkut hubungan antara bahasa dan pemahaman, yaitu bahwa pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa. Proposisi bahwa pemahaman adalah sekaligus penafsiran karena ia menciptakan horizon hermeneutik dalam makna teks diwujudkan. Tetapi mengungkapkan makna sebuah teks dalam isi obyektifnya harus diterjemahkan ke dalam bahasa itu sendiri. Tindakan pengujaran dan penerimaan gambaran dunia selalu ada dalam temporalitas. Dengan fakta demikian, tidak ada kebenaran mutlak dalam soal penafsiran atas wacana. Pemaknaan atau penafsiran yang bersifat temporal (bersifat sementara karena adanya konteks) selalu diantarai oleh sederet penanda dan, tentu saja, oleh teks. Dengan demikian, tugas hermeneutika tidak mencari kesamaan antara maksud penyampai pesan dan penafsir. Tugas hermeneutika adalah menafsirkan makna dan pesan seobyektif mungkin sesuai dengan yang diinginkan teks. Teks itu sendiri tentu saja tidak terbatas pada fakta otonom yang tertulis atau terlukis (visual), tetapi selalu berkaitan dengan konteks. Di dalam konteks terdapat berbagai aspek yang bisa mendukung keutuhan pemaknaan. Aspek yang dimaksud menyangkut juga biografi kreator dan berbagai hal yang berkaitan dengannya.

Hal yang harus diperhatikan adalah seleksi atas hal-hal di luar teks harus selalu berada dalam petunjuk teks. Ini berarti bahwa analisis harus selalu bergerak dari teks, bukan sebaliknya. Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa proses penafsiran selalu merupakan dialog antara teks dan penafsir. Ricoeur, dengan merujuk pada Dilthey, menyebutnya sebagai lingkaran hermeneutik (hermeneutikal circle), yang dideskripsikan sebagai sebuah konstruksi dari kehidupan secara keseluruhan, yang secara beruntun tidak diketahui dan tidak tersedia untuk mengarahkan pandangan secara langsung, di luar dari hal-hal umum dan hanya sedikit yang bisa diakses, tapi belum lengkap. Lingkaran ini dimulai dari divinasi totalitas ke tempat dimana elemen yang bertentangan tersebut berasal, jika perkiraannya benar, elemen dalam pertanyaan memberikan bagian dari makna, yang membelokkan ke arah rekonstruksi totalisitas yang lebih baik, lebih penuh, lebih spesifik. Prosesnya terus berlanjut, dalam lingkaran yang jauh lebih luas, sampai kita dipuaskan bahwa sisa kapasitas masih tertinggal pada obyek kita itu dan tidak menghalangi kita dari maknanya yang tepat.

Dimensi lainnya yang ditunjukkan dalam dialektika pertanyaan dan jawaban, yang biasanya diabaikan oleh pandangan dominan, yaitu ilmu pengetahuan sejarah. Karena sejarawan biasanya memilih konsep-konsep di mana dia menggambarkan corak historis dari obyek-obyeknya, tanpa dengan jelas mencerminkan pada asal-usul dan justifikasinya. Di sini dia hanya mengikuti minatnya terhadap materialnya dan tidak memahami faktanya bahwa kecenderungan deskriptif dari konsep-konsep pilihannya yang sangat mengganggu tujuan sebenarnya, jika ia mengasimilasikan apa yang secara historis berbeda dengan apa yang telah akrab dan jadi, meskipun semua obyektivitas telah menempatkan lebih rendah sesuatu yang asing dari obyeknya ke kerangka konseptualnya sendiri. Begitu pula tuntutan yang sah dari kesadaran historis, bahwa untuk memahami sebuah periode berkaitan dengan konsep-konsepnya sendiri, benar-benar berarti sesuatu yang sangat berbeda. Kesadaran historis gagal memahami hakikatnya sendiri jika, untuk memahami, ia berusaha untuk memakzulkan satu-satunya yang memungkinkan pemahaman. Untuk berpikir historis berarti, pada kenyataannya, melakukan transposisi yang dialami oleh konsep-konsep tentang masa lalu ketika dicoba untuk dipikirkan. Berpikir secara historis selalu menegaskan sebuah hubungan antara ide-idenya dan pemikirannya sendiri. Mencoba untuk menghilangkan konsep-konsep penafsirannya sendiri adalah tidak mungkin, tetapi jelas absurd. Menafsirkan berarti sesungguhnya menggunakan pra-konsepsi seseorang sehingga makna sebuah teks bisa benar-benar dibicarakan.

Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar