Hermeneutika Arkeologi, upaya penafsiran dialektis terhadap kebudayaan materi - page 7

Bentuk kehidupan sosial merupakan hal yang sangat bermakna oleh subyek manusia yang hidup dalam bentuk-bentuk ini. Orang akan mencoba membuat sesuatu tentang kehidupan mereka. Ini dimulai dengan menginterpretasikan makna yang mungkin ditemukan dari pidato para ahli politik dan tindakan untuk mencoba sesuatu tentang kenyataan yang telah dibuat secara berlebihan dan mungkin tidak bekerja lagi bahkan jika memiliki keterampilan yang tinggi.

Giddens telah menghubungkan karakteristik ini antara dunia sosial (apa yang harus dilakukan atas interpretasi dan maknanya) dengan tugas hermeneutik bagi para sosiolog. Ia menguraikan kesulitan hermeneutik ganda atas sosiologi. Pertama, mengarah pada pemahaman akan dunia makna dan interpretasi (masyarakat). Kedua, sosiolog sendiri membentuk masyarakat sosial dengan prakteknya sendiri, prosedur, asumsi, keterampilan, institusi, yang semuanya menjadi harus dipahami.

Shanks dan Tilley telah menguraikan tentang hermeneutik empat lipatan (fourfold hermeneutik) dalam arkeologi, empat tingkat interpretasi dan kebutuhan untuk mengembangkan pemahaman yaitu pemahaman akan hubungan antara masa lalu dan masa sekarang; pemahaman akan masyarakat dan kebudayaan lainnya; dan pemahaman akan masyarakat kontemporer, bagian dari interpretasi arkeologi; pemahaman terhadap masyarakat arkeolog yang memberikan interpretasi. Para sosiolog yang terlibat dalam hermeneutik ganda baik dalam kehidupan dan pekerjaannya dalam kehidupan, sejumlah praktek kontemporer yang tidak bisa dilepaskan dan sebuah dunia makna pra-interpretasi. Sosiolog ini membagi bentuk kehidupan dan melalui pembentukan penggunaan teori dan bahasa atau penjelasan yang berusaha untuk mengetahui cahaya kerangka makna partisipatif yang imbricated. Tindakan antropologikal melibatkan hermeneutik kesukuan pada apa yang antropolog hidup dalam sebuah semesta pra interpretasi pada cahaya dimana permasalahan dan pandangannya dikerangkakan dan belum berusaha untuk memahami kebudayaan asing yang menghuni kerangka yang bermakna ini. Para arkeolog dan sejarawan yang juga terlibat dalam hermeneutik antropologis kesukuan, dengan persilangan tambahan masa lalu, bentuk kehidupan tidaklah secara langsung bisa diakses, namun salah satunya harus dibentuk.

Kesulitan yang ditemukan dalam arkeologi sebagai hermeneutik empat lipat adalah bahwa disiplin ini secara potensial begitu menyenangkan dan bermakna. Tidak bisa diragukan beberapa cara untuk menjelaskan daya tarik publik dengan arkeologi. Meskipun demikian, akan berharga jika menggarisbawahi sekali lagi kesulitan yang ditemukan yang seharusnya tidak mengarah pada romantisme atau nostalgia akan masa lalu, untuk memikirkan usaha manusia yang tidak bisa dipahami yang bisa peroleh dalam usaha ini. Ini adalah kegagalan terbesar hermeneutik pada akhir abad 19, khususnya apa yang diekspresikan dalam hasil karya Dilthey dan yang paling baru oleh Collingwood. Kenampakan ini yang dimudahkan dengan apa yang diklaim oleh para arkeolog ilmiah kontemporer tentang obyektivitas ini, melalui sejumlah metodologi penyederhanaan yang terlarang, dan harus ditolak. Kenyataannya ia hanya bisa mengklaim untuk melakukan hal ini dengan semua pengurangan yang nyata pada manusia yang bisa dilihat dari proyek yang dilakukan. Hermeneutik empat lipat dilibatkan pada setiap dan semua bentuk usaha arkeologi yang meruntuhkan setiap usaha untuk memperbaiki sekali lagi dan seluruh kebiasaan masa lalu seharusnya dipahami dalam hal aturan metodologis terhadap prosedur yang dilakukan. Usaha ini lebih membutuhkan penggunaan sebuah pluralitas pendekatan yang multivalent. Hal yang sama tentang kesulitan intelektual yang ditemukan dalam memahami masa lalu yang seharusnya ilmu-ilmu sosial yang paling berpengalaman dalam hal duniawi dan sejumlah teori yang telah dikembangkan. Pada kenyataan yang sebenarnya, arkeologi masih mempertahankan seluruh ilmu sosial yang secara teoritis dikembangkan dengan lemah sekali. Sebuah inversi yang besar muncul untuk menampilkan disiplin yang paling dibutuhkan oleh teori oleh dan kenampakan yang besar guna memikirkan bahwa ia bisa berjalan terus tanpanya.

Kemudian, tidak hanya arkeolog yang harus menerjemahkan antara dunia 'mereka' dan dunia 'kita', tapi mereka juga harus berurusan dengan dunia yang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Tapi adalah yang sulit untuk mendiskuiskan bahwa sosiolog berurusan dengan hermeneutik ganda, antropolog dengan hermeneutik tiga lipatan dan para arkeologi berurusan dengan hermeneutik empat lipatan. Tapi seorang arkeolog palaeolitik tidak berurusan dengan lapisan hermeneutik yang jumlahnya banyak dibanding dengan arkeolog sejarah dan adalah tidak cukup untuk mengasumsikan bahwa beberapa kebudayaan dalam waktu dan ruang yang lebih 'sama dengan kita' dibanding yang lainnya.

Adalah lebih baik tentang apa yang telah ditegaskan oleh Giddens bahwa semua ilmu-ilmu sosial bisa dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam bahwa ilmu-ilmu sosial lebih sering menghadapi hermeneutik ganda dibanding dengan hermeneutik tunggal. Tentunya pada tingkat metodologi, permasalahan yang dihadapi selalu salah satu dari dua horizon yang memusingkan, masyarakat ilmiah dan masyarakat di masa lalu. Informasi lainnya dari Barat dan konteks etnografi lainnya bisa juga dimasukkan dalam pembahasan ini, namun selalu melalui sebuah masyarakat ilmiah. Para arkeolog menghadapi jarak masa lalu dengan cara yang sama seperti halnya dengan para ahli ilmu sosial menghadapi permasalahan 'yang lain', bahkan jika sedikit bukti dan besarnya jangka waktu yang dilibatkan dan kemudian sangat memperbesar ketidakpastian interpretasi.

Ketika ketidakpastian interpretasi menurun, maka interpretasi tersebut akan di kotak hitamkan dan tidak lagi menjadi subyek yang patut dicurigai dan dinegosiasikan. Kontroversinya jika sebuah interpretasi diselesaikan dan ditutup. Apa yang menjadikan sebuah interpretasi menang di antara interpretasi lainnya? Budaya arkeologis misalnya, yang tidak lama lagi diinterpretasikan oleh orang kebanyakan dari kelompok-kelompok ras; ini bukan sesuatu sekarang yang bisa dianggap sebagai sebuah kemungkinan interpretasi. Apa yang menyebabkan atau membawa suatu penutupan interpretasi? Sebuah jawaban umum bisa menjadi alasan dan menjadi kenyataannya. Pengujian tertutup contoh-contoh empiris menunjukkan bahwa unsur etnis tidak direfleksikan dalam apa yang arkeolog sebut sebagai budaya. Namun ilmu sejarah dan filosofi mengindikasikan bahwa sebuah penjelasan atas kontroversi ilmiah tidaklah cukup. Prinsip utamanya adalah apa yang disebut sebagai di bawah determinasi. Ini merupakan prinsip Duhem-Quine yang menegaskan bahwa tidak faktor tunggal yang cukup untuk menjelaskan penutupan sebuah kontroversi atau kepastian yang diperoleh oleh pada ilmuwan. Ini merupakan dasar filosofis dari sebagian besar ilmu sosiologi dan sejarah kontemporer. Teori tidak pernah secara utuh dideterminasikan oleh kenyataan atau oleh logika. Selalu ada sesuatu yang memasang keraguan tentang kepastian ini, selalu ada sesuatu yang hilang untuk menutup kotak hitam selamanya.


 


Category: 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar