Hermeneutika dalam Arkeologi
Dalam tujuannya untuk memahami masa lampau melalui interpretasi yang sesuai dengan kerangka pikir pilihannya, maka alasan maupun tujuan memperoleh pengetahuan itu, dapat dilakukan secara terus menerus tanpa henti. Namun kajiannya tidak dapat berdiri sendiri terutama yang berkaitan dengan penginterpretasian data tinggalan arkeologi. Kajian arkeologi interpretatif ini telah dirasakan kepentingannya ketika data arkeologi tidak hanya sekedar dideskripsikan saja, namun juga diperlakukan sebagai data yang perlu ditafsirkan. Meskipun pada masa-masa awalnya yang dilakukan adalah dengan menerapkan metode ilmu pengetahuan alam, yaitu dengan metode menerangkan terhadap data arkeologi. Sehingga dengan metode seperti ini membuat arkeologi menjadi saintifik karena menerapkan metode science, sebagai ciri gerakan atau aliran yang mengklaim sebagai arkeologi baru (new archaeology) yang dari sudut metodologinya dikenal sebagai arkeologi prosesual.
Pada perkembangannya, kemudian dirasakan pentingnya interpretasi terhadap arkeologi yang penerapannya dilakukan bersama dengan metode menerangkan. Berdasar pada upaya ini maka dikenallah arkeolog pengembangnya sebagai penganut aliran 'arkeologi pasca-prosesual'. Aliran yang mendasarkan kepada filsafat kebudayaan ini muncul sebagai respon kepada aliran prosesual yang mendasarkan diri pada filsafat positivistik. Metode menerangkan sebagai ciri khas dari ilmu pengetahuan alam, maka metode interpretasi merupakan ciri khas dari ilmu pengetahuan budaya. Perkembangan paradigma penelitian telah memunculkan tiga alternatif baru sebagai pengganti dari paradigma lama positivis, yaitu paradigma pasca-positivis, teori kritik dan konstruktivis. Apa yang menarik dari wacana paradigma penelitian ini adalah terjadinya perubahan yang mendasar terhadap cara pandang (ontologi), epistemologi serta aksiologi (metodologi) yang digunakan oleh ketiga paradigma tersebut.
Upaya itu muncul di kalangan para pakar yang menganggap arkeologi prosesual telah gagal menjelaskan berbagai persoalan dalam arkeologi dengan kerangka pikir positivismenya, yang menuntut sikap ilmiah lewat pendekatan eksplanasi deduksi atau pengujian hipotesis. Ian Hodder, mengupas satu demi satu pendekatan yang ditawarkan dalam arkeologi prosesual dan menunjukkan kelemahan-kelemahannya dalam menetapkan: konsepsi tentang budaya dan masyarakat, bentuk pengetahuan yang cocok untuk arkeologi serta laku keilmuan arkeologi yag harus dijalankan. Arkeologi pasca-prosesual juga lebih lugas dalam memberikan multi interpretasi dan salah satu pendekatan yang dipandang tepat untuk ini adalah hermeneutika sebagai filsafat interpretasi. Ranah penafsiran secara teoritis dan filosofis, klarifikasi makna dan penerimaan oleh pengertian dan pemahaman, tercakup oleh hermeneutik. Hermeneutik menunjuk hubungan antara penafsir dan apa yang ditafsirkannya ketika hal tersebut diterjemahkan tidak hanya berupa bahan baku yang didefinisikan dan dibawa pada kontrol teknis, namun bermakna sesuatu. Secara tradisional, istilah hermeneutik diterapkan untuk membaca sebuah teks dan pemahaman akan sumber-sumber bersejarahr12;apakah sumber tersebut otentik dan asli atau tidak? Apa maknanya? Apa keinginan yang penulis ingin sampaikan? Kita tidak harus mengajukan sebuah penerapan yang mudah tentang prinsip-prinsip hermeneutik ke dalam arkeologi, namun akan diperhatikan dan dicatat relevansinya dengan topik dan isu yang ada. P.J. Watson mengungkapkan pendapatnya tentang hermeneutik dengan jelas bahwa tidak ada penafsiran yang tepat hingga dimulainya penafsiran.
Secara epistemologi, perkembangan filsafat juga berimplikasi pada arkeologi. Filsafat kontemporer lahir untuk mengkritik filsafat zaman modern utamanya pandangan positivis. Dalam konteks ilmu arkeologi, penerapan metode-metode untuk menjelaskan masa lampau tidak lagi hanya terbatas pada penerapan metode ilmu-ilmu alam di mana segala sesuatunya harus terukur dan bisa diukur. Penerapan metode yang bersifat positivis hanya bisa menjelaskan proses budaya tapi tidak mampu menjelaskan makna yang terkandung dibalik sebuah benda peninggalan manusia masa lampau. Budaya yang bersifat partikularistik dipaksakan dengan menurut pada hukum-hukum ilmu alam yang lebih bersifat generalistik untuk mencari dalil-dalil. Perkembangan yang sedang mencuat adalah bagaimana arkeologi sebagai bagian dari ilmu humaniora menjelaskan masa lampau dengan persfektif ilmu humaniora itu sendiri.
Hermeneutik dan interpretasi adalah dua hal yang berbeda. Interpretasi adalah menjelaskan obyek di mana posisi subyek di luar dari obyek. Hermeneutik adalah menjelaskan obyek dimana subyek larut didalamya. Dalam konteks arkeologi, budaya material peninggalan masa lampau tak mungkin lagi dapat dijelaskan dengan mendalami konteks budaya aslinya. Di samping pendukung budaya asli sudah tidak ada, juga jauhnya rentang waktu yang memisahkan antara subyek dengan obyek yang akan dijelaskan. Pertanyaanya adalah bagaimana menjembatani antara konteks budaya materi tersebut dengan konteks budaya sang penafsir ? Makna dari sebagian besar kebudayaan materi hanya dapat terungkap melalui pengunaan, dan pemahaman akan kebudayaan materi seringkali bersifat fragmentaris. Kajian teknis terhadapnya mencakup suatu integrasi antara sumber material, sosial dan simbolik yang luas dengan makna abstrak yang timbul yang terkait dengan materinya. Interpretasi terhadap kebudayaan materi terpusat pada prosedur hermeneutik secara berbarengan dengan definisi konteks, pembentukan pola yang didasarkan atas persamaan dan perbedaan, serta penerapan teori dan kebudayaan materi yang relevan.
Sistem simbol sebagai medium yang menjadi perantara dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna, yang mampu melakukan semuanya beroperasi sebagai sistem representasi. Melalui simbol-simbol (bahasa, wacana, tanda-tanda simbol artefak, dan sebagainya) kita mengungkapkan pikiran, konsep dan ide tentang sesuatu, dan makna sesuatu hal sangat tergantung dari cara 'merepresentasikannya'. Dengan membedah simbol dan imej yang digunakan dalam merepresentasikan sesuatu, maka terlihat jelas bagaimana proses pemaknaan, penilaian dan pembelokan tanda yang diberikan pada sesuatu tersebut. Sistem representasi tak selalu menampakan realitas sebenarnya, karena juga berperan membelokkan makna tanda. Maka dalam membongkar manipulasi sistem simbol, khususnya bahasa, terhadap realitas, hermeneutika merupakan alat baca konseptual dan operasional, selain kekuasaan dan kekerasan.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar