PENUTUP
Hermeneutik dalam arkeologi merupakan satu tantangan baru bagi penafsiran dan pemaknaan tinggalan arkeologi dengan komentar-komentar kritisnya. Hermeneutik dan interpretasi adalah dua hal yang berbeda. Interpretasi adalah menjelaskan obyek di mana posisi subyek di luar dari obyek. Hermeneutik adalah menjelaskan obyek dimana subyek larut didalamya. Dalam konteks arkeologi, budaya material peninggalan masa lampau tak mungkin lagi dapat dijelaskan dengan mendalami konteks budaya aslinya. Di samping pendukung budaya asli sudah tidak ada, juga jauhnya rentang waktu yang memisahkan antara subyek dengan obyek yang akan dijelaskan. Sistem simbol sebagai medium yang menjadi perantara dalam memaknai sesuatu, memproduksi dan mengubah makna, yang mampu melakukan semuanya beroperasi sebagai sistem representasi.
Dalam arkeologi dikenal hermeneutik empat lipatan (fourfold hermeneutik) yaitu empat tingkat interpretasi dan kebutuhan untuk mengembangkan pemahaman yaitu pemahaman akan hubungan antara masa lalu dan masa sekarang; pemahaman akan masyarakat dan kebudayaan lainnya; dan pemahaman akan masyarakat kontemporer, bagian dari interpretasi arkeologi; pemahaman terhadap masyarakat arkeolog yang memberikan interpretasi.
Metode hermeneutik dalam arkeologi adalah bagaimana menciptakan dan mendorong terbentuknya arkeologi yang bermakna (meaningful), terutama yang terkait dengan warisan budaya masyarakat. Atas dasar itu maka pada semua tahap, dari pengidentifikasian kelas dan atribut hingga kepada pemahaman terhadap proses social tingkat tinggi, yang dalam melakukan interpretasi ini arkeolog harus menghadapi tiga wilayah sekaligus : pengidentifikasian konteks terhadap artefak memiliki makna fungsional yang sama. Interpretasi harus dilakukan guna menemukan batas konteks makna fungsional; pengidentifikasian konteks dilaksanakan melalui pengenalan adanya persamaan dan perbedaan. Dasar pengidentifikasian konteks ditentukan atas dasar dua asumsi. Pertama, benda yang berada pada batas sebuah konteks dibuat dengan cara yang sama. Kedua, manusia bersikap sama dalam menghadapi situasi yang sama. Kedua asumsi yang dikemukakan itu hanya dapat diterapkan sepanjang batas konteksnya dapat dikenali dengan baik; evaluasi yang dilakukan adalah mencari relevansi dari teori-teori yang umum maupun yang spesifik terhadap data. Observasi dan interpretasi merupakan proses yang sarat dengan teori, walaupun penerapan teori itu dapat saja berubah dalam konfrontasi secara dialektis dengan bukti materi.
DAFTAR PUSTAKA
Acep Iwan Saidi, 2008, Hermeneutika, Sebuah Cara Untuk Memahami Teks, dalam Jurnal Sosioteknologi, Edisi 13 Tahun 7, April, Bandung : FSRD ITB.
Bertens, K., 1981. Filsafat Barat Dalam Abad XX. Jakarta : Gramedia.
Bleicher, Josef, 2007, Hermeneutika Kontemporer, Hermeneutika Sebagai Metode, Filsafat dan Kritik, terj. Imam Khoiri, cet. III, Yogyakarta : Fajar Pustaka.
Daud Aris Tanudirdjo, Sekilas Tentang Hermeneutik, Materi Kuliah arkeologi S2 UGM tanggal 12 Juni 2008.
E. Sumaryono, 1999, Hermeneutika, Sebuah Metode Filsafat, edisi revisi, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Fauzi Fashri, 2007, Penyingkapan Kuasa Simbol, Apropriasi Reflektif Pemikiran Pierre Bourdieu, Yogyakarta : Juxtapose.
Fransisco Budi Hardiman, 2003, Kritik Ideologi, Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Gadamer, Hans-Georg, 2004, Kebenaran dan Metode, Pengantar Filsafat Hermeneutika, terj. Ahmad Sahidah, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Geertz, Clifford, 1992, Tafsir Kebudayaan, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Harun Hadiwijono, 1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Hodder, Ian, 1992, Theory and Practice in Archaeology, London and New York : Roultledge.
Hodder, Ian, et.al., 1995, Interpreting Archaeology, Finding meaning in the past, London and New York : Routledge.
Inyiak Ridwan Muzir, 2008, Hermeneutika Filosofis Hans-Georg Gadamer, Yogyakarta : Ar-Ruzz Media.
Jujun S. Suriasumantri, 1999, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Niznik, Jozef dan John T. Sanders (Ed.) 2002. Memperdebatkan Status Filsafat Kontemporer Habermas, Rorty dan Kolakowsky. Yogyakarta : Qalam.
Noerhadi Magetsari, 1999, Metode Interpretasi Dalam Arkeologi, dalam Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (EHPA) Lembang, 22-26 Juni. Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Palmer, Richard E., 2005, Hermeneutika, Teori Baru Mengenai Interpretasi, terj. Musnur Hery & Damanhuri Muhammed, cet. II, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Shanks, Michael and Christopher Tilley, 1992, Re-Constructing Archaeology, Theory and Practice, second edition, London and New York : Routledge.
Yoffee, Norman dan Andrew Sherratt, (eds.), 1993, Archaeological theory : who sets the agenda ?, Cambridge : University Press.
Zubaedi, dkk, 2007, Filsafat Barat, Dari Logika Baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn, Yogyakarta : Ar-Ruz Media.
.jpg)
1 komentar:
Sloty Casino Hotel & RV Park - Mapyro
Find the best place to stay in San Diego County, 안동 출장안마 CA, without spending anything. 목포 출장안마 Save time, money 제주 출장안마 and 통영 출장안마 stress at 밀양 출장마사지 a local casino or RV Park.
Posting Komentar