Sebagaimana yang ingin diperlihatkan oleh Gadamer sendiri bahwa disiplin ini dapat diterapkan pada keadaan kini, meskipun pemahaman itu berhubungan dengan peristiwa sejarah, dialektik dan bahasa. Dengan demikian pemahaman selalu mempunyai posisi, misalnya posisi pribadi kita sendiri saat ini. Pemahaman tidak pernah bersifat obyektif dan ilmiah. Sebab, pemahaman bukanlah 'mengetahui' secara statis dan di luar kerangka waktu, tetapi selalu dalam keadaan tertentu, misalnya dalam sejarah. Semua pengalaman yang hidup itu menyejarah, bahasa dan pemahaman juga menyejarah. Proses memahami dalam makna ini adalah keterkaitan manusia dengan keterkondisiannya dengan sejarah yang dibuat oleh manusia sendiri, artinya peta sejarah manusia adalah sebuah upaya ketidaksadaran manusia dalam bentukan sejarahnya masing-masing, bahwa pembentukannya secara historis terlibat dalam memberikan inspirasi pemahamannya terhadap segala sesuatu, tidak hanya itu dampak keterkondisian itu lebih esensial lagi adalah memperlihatkan tipologi manusia yang dikendalikan oleh proses yang telah dialaminya dalam rentang sejarah hidupnya, di sinilah mungkin oleh Gadamer dikatakan adanya proses dialektika yang tidak pernah putus, sehingga menyebabkan manusia pada satu sisi tidak terputus dengan pengalaman-pengalaman hidupnya. Melihat yang demikian ada satu persoalan yang sangat diperhatikan oleh Gadamer sendiri yaitu persoalan tradisi, yang tradisi ini adalah sebuah perluasan dari bagian sejarah yang terbentang di depan dunia kehidupan manusia, tradisi adalah praktek yang mengisi hidup manusia, membentuk perilaku bahkan membentuk ideologi mereka, bahwa tradisi adalah faktor yang sangat esensial untuk masuk ke dalam wilayah pemahaman. Tradisi dalam hal ini bisa dilihat sebagai pengalaman-pengalaman yang selalu terus menerus bersifat konfrontatif, ini mungkin bisa dikaitkan dengan alasan dia yang memasukkan proses dialektika sebagai tangga pemandu dalam perjalanan hidup manusia yang tidak bisa terelakkan, manusia dalam konsep ini pada kesimpulannya tidak bisa lari dari keberadaan tradisi historis yang demikian mempola, ini akan berakibat pada bagaimana pemahamannya terhadap apa yang ia persepsi dan amati.
Hermeneutika kontemporer diwarnai dengan perdebatan mengenai persoalan teori hermeneutis, filsafat hermeneutik dan hermeneutika kritis. Teori hermeneutis memusatkan kepada persoalan teori umum interpretasi sebagai metodologi bagi ilmu-ilmu humaniora melalui analisis atas verstehen sebagai metode yang cocok untuk mengalami kembali atau berpikir kembali atas apakah yang sesungguhnya dirasakan atau dipikirkan oleh pengarang. Sehingga diharapkan dapat diperoleh pemahaman atas proses pemahaman secara umum, yaitu bagaimana kita mampu menerjemahkan kompleks makna yang diciptakan oleh seseorang menjadi pemahaman kita sendiri.
Menurut Schleiermacher, ada dua tugas hermeneutika, interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Aspek gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang, sedang aspek psikologis memungkinkan seseorang menangkap setitik cahaya pribadi penulis. Sedangkan Dilthey mengatakan bahwa meskipun orang tidak dapat mengalami secara langsung (erleben) peristiwa-peristiwa di masa lalu, tetapi ia dapat membayangkan bagaimana orang-orang dahulu mengalaminya (nacherleben). Sejarawan, ahli bahasa dan ilmuwan sosial memperoleh akses pada obyek-domain budaya bukan lewat pengamatan, namun melalui pemahaman terhadap makna simbolik. Sedangkan Gadamer yang pemikirannya biasa disebut hermeneutika filosofis, menyatakan bahwa merupakan hal yang mustahil orang-orang bisa meninggalkan prasangka-prasangkanya, berikut situasi psikis dan sosiologis yang mengitarinya, lalu masuk ke dalam suasana lain. Menurutnya, makna teks tidak terbatas pada pesan yang dikehendaki pengarangnya, karena teks bersifat terbuka bagi pemaknaan oleh orang yang membacanya, meski berbeda dalam waktu dan tempatnya. Oleh karenanya, hermeneutis merupakan peristiwa historikal, dialektikal dan kebahasaan. Sumbangan pemikiran di atas terhadap hermeneutika adalah apa yang disebut lingkaran hermeneutika yaitu unsur sejarah atau bahasa khususnya merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses penafsiran atau kegiatan keilmuan.
Sebagai epistemologi dan metodologi pemahaman, teori hermeneutika dikembangkan lebih jauh oleh Dilthey di mana epistemologi dalam konteks Critique of Historical Reason yang mengusahakan penelitian transendental atas kemungkinan pengetahuan historis, aspek metodologisnya dipertajam menjadi interpretasi atas dokumen-dokumen yang secara linguistik sempurna, yang merepresentasikan sebuah kasus spesifik atas penggunaan metode verstehen sebagai metode memahami yang tepat dalam contoh relasi subyek-obyek menjadi tempat 'hidup bertemu dengan hidup'. Dilthey yang pada awalnya berusaha menjawab masalah hermeneutika yang mengkonstitusikan 'kesadaran historis' dengan mengulang-ulangi perhatian terhadap pengalaman hidup, kemudian berbalik kepada teori Hegel mengenai roh obyektif dan dengan mengadopsi pembedaan antara makna dan pernyataan, telah mendekatkan dirinya ke dalam mediasi antara kesadaran historis dan perjuangan demi kebenaran teoritis.
Inilah harapan untuk menemukan sebuah dasar bagi penyelidikan ilmiah atas makna yang ditolak filsafat hermeneutis sebagai obyektivisme. Salah satu pandangan utama filsafat hermeneutis menegaskan bahwa ilmuwan sosial atau interpreter dan obyek dihubungkan oleh suatu konteks tradisi, yang mengimplikasikan bahwa telah ada pra-pemahaman atas obyek ketika ia mengkaji obyek tersebut, sehingga tidak mungkin untuk memulai dengan sebuah pemikiran netral. Filsafat hermeneutis tidak bertujuan mencapai sebuah pengetahuan obyektif dengan menggunakan prosedur-prosedur metodis, melainkan pada pengungkapan dan deskripsi Dasein manusia dalam temporalitas dan historisitasnya.
Salah satu perdebatan dalam hermeneutika adalah hermeneutika kritis, yang menantang asumsi idealisme sebagai dasar teori hermeneutis maupun filsafat hermeneutik, yaitu sebuah penolakan untuk mempertimbangkan faktor-faktor di luar bahasa yang juga membantu untuk mengkonstitusikan konteks pemikiran dan tindakan, yakni kerja dan dominasi. Perdebatan mengenai bentuk hermeneutika paling memungkinkan ini akhirnya sampai kepada hermeneutika fenomenologis Paul Ricoeur, yang meski tidak mewakili sebuah cabang pemikiran yang jelas-jelas berbeda, tetap saja membawa analisa yang tajam atas tiga pemikiran hermeneutis sebelumnya dan juga berusaha menyatukannya menjadi sebuah skema yang lebih besar. Ricoeur juga menyediakan apresiasi yang sangat diperlukan pada peranan analisis strukturalis dan sistem simbol dalam relasinya dengan interpretasi hermeneutik atas sebuah teks.
.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar